Wisuda di Negeri Sakura, Nagoya University Melahirkan Dua Wisudawan/wati Master Reguler PHRD IV Yang Siap Mengabdi Untuk Tanah Air

Foto: Dua orang karyasiswa Master Reguler PHRD IV yang menjalani prosesi wisuda di Nagoya University

Bagi dua karyasiswa Master Reguler PHRD IV, hari kelulusan di Nagoya University bukan sekadar tentang mengenakan toga dan menerima ijazah. Ia adalah mosaik dari berbulan-bulan riset yang penuh ketekunan, proses adaptasi di Negeri Sakura, hingga pengalaman lintas budaya yang akan mereka kenang selamanya.

Di kampus Graduate School of International Development (GSID), ruang kelas tidak sekadar tempat berdiskusi tentang teori pembangunan. Setiap pertemuan adalah latihan untuk berpikir kritis, melihat dunia dengan lensa berbeda, sekaligus membiasakan diri dengan keberagaman perspektif dari teman-teman internasional. Dari proses itulah mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga sudut pandang baru dalam membaca realitas global.

Hari wisuda pun menjadi penanda bahwa perjuangan mereka di Nagoya University telah tuntas. Tapi justru di titik inilah muncul tanggung jawab baru, yaitu bagaimana membawa pulang ilmu, wawasan, dan nilai-nilai yang dipelajari ke tanah air. Sebagai Aparatur Sipil Negara, mereka ditantang untuk tidak hanya andal secara teknis, tetapi juga menghadirkan gagasan segar, kebijakan yang berkeadilan, serta tindakan nyata untuk kemajuan pembangunan nasional.

Wisuda ini, dengan segala makna di baliknya, lebih tepat disebut sebagai gerbang baru. Gerbang menuju ruang kontribusi yang lebih luas, di lingkungan tempat bekerja, di masyarakat, bahkan di panggung nasional. Dari Nagoya, mereka tidak hanya pulang dengan membawa gelar, tapi juga keyakinan bahwa ilmu pengetahuan dan pengalaman lintas budaya bisa menjadi bekal penting untuk membangun bangsa yang lebih adaptif, inklusif, dan berdaya saing.

Karena pada akhirnya, pendidikan tinggi tidak berhenti di ruang kelas atau di podium wisuda. Pendidikan sejati justru teruji ketika para lulusan kembali ke tanah air, menghadapi tantangan nyata, serta berani mengambil peran dalam merencanakan dan mengubah wajah pelayanan publik menjadi lebih efektif, efisien, transparan, dan berorientasi pada masyarakat. Dari Nagoya ke Nusantara, perjalanan itu baru saja dimulai. (YTF)